Melalui Listrik Mandiri Dongkrak Elektrifikasi Nasional

Melalui Listrik Mandiri Dongkrak  ElektrifikasiNasional

Listrik Mandiri merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan rasio elektrifikasi nasional. Teknologi tepat guna seperti apa yang digunakan untuk mengembangkan listrik mandiri di berbagai daerah?

Kebutuhan listrik nasional terus meningkat. Di sisi lain, pemerintah sendiri memiliki keterbatasan. Bila semua persoalan kelistrikan nasional dikelola pemerintah melalui PT PLN jelas tidak bisa selesai. Terlebih lagi, elektrifikasi nasional masih rendah dan tak secepat pertumbuhan jumlah pelanggan listrik yang terus meningkat.

Progam desa mandiri energi (DME) atau listrik yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah, pihak swasta, serta lembaga swadaya masyarakat merupakan solusi tepat di tengah keterbatasan pemerintah. Kendati dalam pelaksanaan, program tersebut perlu sosialiasi dan dorongan dari berbagai pihak termasuk pemerintah.

Pemerintah memang berkepentingan terhadap pengembangan program listrik mandiri. Dalam situasi cadangan energi nasional yang semakin berkurang, tingkat rasio elektrifikasi nasional saat ini baru mencapai 65%. Artinya, masih ada sekitar 35% penduduk Indonesia yang masih belum menikmati listrik. Jika sekarang jumlah penduduk Indonesia ada sebesar 250 juta jiwa, masih terdapat 83,5 juta orang yang belum mendapat aliran listrik. Jumlah itu tentu masih sangat besar.

Terkait hal itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM te­lah meluncurkan kebijakan yang berhubungan dengan program DME. Embrio program DME bermula dibentuk untuk mendorong pertumbuhan per­ekonomian pedesaan. Program tersebut sekaligus mendorong desa-desa agar bisa memenuhi kebutuhan listriknya secara mandiri. DME pertama diluncurkan di Desa Grobogan, Jawa Tengah sebagai pilot project pada 2007. Selanjutnya, program tersebut mulai dikembangkan ke desa-desa di seluruh Indonesia. Kementerian ESDM menargetkan program tersebut bisa menyentuh 3000 desa pada 2014.

Target yang dipatok cukup banyak dan signifikan bisa mengurangi beban PLN. Namun fakta di lapangan, program DME tak semulus sebagaimana yang diharapkan. Kini program tersebut baru dilaksanakan di 633 desa. Jadi dengan demikian, masih lebih banyak lagi desa-desa tertinggal dan terpencil yang belum mendapat aliran listrik. “Pada 2007, sekitar 6240 desa tertinggal belum memiliki jaringan listrik,” terang Edi Leksono, praktisi manajemen efisiensi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Apa persoalan yang dihadapi? Ternyata persoalan tersendatnya program DME adalah terkait permasalahan klasik yakni kurangnya anggaran. Berdasarkan kalkulasi, setiap desa yang ingin melaksanakan desa mandiri energi membutuhkan dana rata-rata sekitar Rp1 miliar. Idealnya untuk bisa melaksanakan program DME dibutuhkan anggaran sekitar Rp 4 triliun hingga Rp 5 triliun. Namun angggaran saat ini yang tersedia hanya Rp 270 miliar. Angka tersebut masih jauh dari total kebutuhan untuk melaksanakan program tersebut.

Cukup Signifikan
Meskipun baru menyentuh 633 desa, namun penerapan DME ternyata mampu menekan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang cukup besar setiap tahunnya. Dengan pelaksanaan DME tiga tahun lalu yang telah dilaksanakan 633 desa, telah terjadi penghematan BBM mencapai Rp 1,2 triliun.
Dua program DME yang cukup sukses adalah pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) Cicurug, Garut, Jawa Barat dan PLTMH Malang, Jawa Timur. Dua PLTMH itu mendapat penghargaan dari organisasi ASEAN. Sebanyak 429 dari 633 DME tersebut diantaranya berbasis bahan bakar nabati (BBN). Sisanya pembangkit yang menggunakan bahan bakar non-BBM seperti mikrohidro, tenaga angin, tenaga surya, biogas, biomassa, serta energi baru terbarukan lainnya.

Kepada Majalah Listrik Indonesia beberapa waktu lalu, Sekretaris Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Kementerian ESDM Agoes Triboesono mengatakan pemerintah menyadari bahwa biaya melistriki masyarakat di daerah terpencil cukup mahal. Oleh karena itu, pemerintah berupaya melistriki masyarakat melalui stand alone yang didanai dari dana APBN.

“Kewajiban pemerintah untuk melistriki masyarakat. Jadi, melalui APBN meskipun tidak besar, kita melistriki melalui stand alone. Sistem yang berdiri sendiri dan kita bagikan kepada masyarakat untuk rumah tangga di seluruh Indonesia,” tutur Agoes. Ditinjau dari sisi teknologi, ada beberapa teknologi yang sering digunakan untuk listrik mandiri. Diantaranya Bahan Bakar Nabati (BBN), mikrohidro, tenaga angin, tenaga surya, biogas, biomassa, serta energi baru terbarukan lainnya.

About ariefsullivan

saya adalah saya

Posted on Februari 28, 2012, in Electric World. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: